DI JALAN KESESATAN, KAMI MENEMUKAN KEJUJURAN


Dunia terlalu sering meminta kita untuk menulis dengan manis, bersolek dengan kata-kata indah yang sebenarnya kosong. Namun, hari ini, tepat di peringatan wafatnya Sang Binatang Jalang, Chairil Anwar, kami diingatkan kembali bahwa menulis bukan soal menyenangkan telinga orang lain. Menulis adalah cara kita berteriak di tengah keheningan, meskipun teriakan itu dianggap sumbang atau sesat.

Jika menulis dengan jujur dibilang sesat, maka biarkan kami, di bawah bendera Penulis Sesat, menjadi penganutnya yang paling fanatik dan tekun. Karena di balik setiap kata yang "menyimpang" itu, ada denyut nadi kebenaran yang menolak untuk mati. Chairil telah membuktikan satu hal: satu baris kalimat yang lahir dari kejujuran yang pahit, akan jauh lebih abadi daripada ribuan lembar pujian kosong yang lahir dari kemunafikan.

"Sekali berarti, sudah itu mati."

Larik yang ditulisnya dalam puisi Diponegoro pada tahun 1943 ini bukan sekadar urusan heroisme perang. Ini adalah manifesto eksistensi. Ini adalah tentang kualitas hidup bahwa lebih baik menyala terang meski sekejap, daripada meredup perlahan dalam kebosanan yang panjang. Pesan ini tetap abadi, tersimpan rapat dalam lembar-lembar buku Deru Campur Debu (1949), menjadi warisan bagi siapa saja yang berani berdiri tegak dengan identitasnya sendiri.

Hari ini, di Hari Puisi Nasional, kami tidak hanya merayakan sajak. Kami merayakan keberanian untuk tetap menjadi asing, tetap menjadi "binatang jalang yang terbuang dari kumpulannya." Karena bagi kami, M.Noer.ID, kesesatan yang jujur adalah jalan pulang yang paling indah.

Mari merayakan luka, merayakan kata, dan merayakan hidup yang hanya sekali ini.

M.Noer.ID | Penulis Sesat

28 April — Hari Puisi Nasional

Komentar